Menyoal Polemik Batas Kawasan dan Jalur Pendakian di Garut

Zonalibur.com. Di Garut, mana jalur pendakian yang benar-benar resmi. Adakah basecamp memegang SK penunjukkan atau apalah yang dapat membuktikan bahwa jalur pendakian tersebut legal?

Kategori legal juga perlu dipertegas, apakah karena ada taswir (keretas sacewir) dari dinas/instansi berwenang. Atau disebut resmi karena di jalur tersebut ada ranger dan ada petugas yang menjual karcis di basecamp.

Diketahui yang sudah jelas kontraknya itu TWA Papandayan. Meskipun katanya ada aktivis lingkungan yang protes kepada pemerintah karena ada penurunan sebagian status kawasan Cagar Alam oleh pejabat berwenang.

Tulisan ini ada sebagai luapan kegelisanan.

Jalur Guntur via Cikahuripan
Dokpri, lokasi moal dibeja-beja.

Akhir-akhir ini ada polemik mengenai status kawasan dan jalur pendakian. Mungkin petugas basecamp sudah saatnya menempel legalitas formal jalur pendakian dari pihak berwenang.

Tidak terkecuali tiket masuk dan syarat simaksi (surat izin masuk kawasan konservasi) sesuai aturan yang berlaku serta menginformasikan wilayah mana yang boleh/tidak boleh dilalui. Supaya tidak ada lagi kegaduhan dan saling tuding di media sosial.

Pendaki juga harus bersikap arif dan bijaksana. Tidak boleh ‘bedegong’ selfi atawa mendaki ke kawasan konservasi tanpa simaksi.

Masa iya harus menyusul sengketa Pilplres 2019, disidangkan di Mahkamah Konstitusi untuk menentukan kawasan dan jalur pendakian legal.

Jika masuk MK, mungkin pihak yang kontra posisinya sebagai pemohon. BKSDA, para ranger dan petugas basecamp sebagai termohon. Sementara para pendaki sebagai pihak terkait. Siapa yang akan menjadi kuasa hukumnya?

Apakah perlu meminta bantuan Prof. Yusril, Bambang Wijayanto atau Hotman Paris untuk mengurusi status hukum tetap mengenai jalur pendakian di Garut?

Ini bukan soal menang atau kalah karena bukan kontestasi politik. Pun bukan soal siapa benar siapa salah. Tetapi tentang batas wilayah kawasan cagar alam dan taman wisata yang jadi bahan pasea.

Demi keamanan, kenyamanan dan demi nasib anak cucu yang tidak akan bisa lepas dari ketergantungan terhadap alam.

Mengenai kawasan, baik itu CA, TWA atau naon wae namina memang sebisa mungkin perlu dijaga. Jalur pendakian mana pun, ekosistem di sekitarnya pasti mengalami perubahan yang cenderung kepada kerusakan.

Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya. Dalam Al-Qur’an surat QS Ar-Ruum ayat 41, Allah berfirman. Yang artinya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

QS Asy-Syuura ayat 30:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

Harus terima bahwa yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini bukan orang utan, babi atau si raja hutan. Melainkan oknum manusia yang diberi amanah sebagai pemimpin di muka bumi.

Apakah kita sebagai manusia boleh mendaki atau tidak?

Kembali pada tujuan pribadi dan cara melakukan pendakian. Tujuan baik harus diikuti cara-cara yang baik agar sepulang dari gunung menjadi pendaki mabrur. Juga kembali pada bahasan di awal, jalur dan kawasan mana yang boleh dilalui.

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).

Pihak yang berwenang membuat regulasi di bumi pertiwi ini saya kira harus secepatnya mengambil tindakan dan memberikan wawasan secara TSM (terstruktur, sistematis dan masif) kepada khalayak. Bila perlu, ikut ‘bergaul’ dengan pendaki di grup-grup sosmed.

Jangan biarkan para pecandu ketinggian di negeri tercinta ini menjadi pendaki mabrut. Namun jangan salahkan mereka jika mabrut selama informasi masih pabaliut.

Wallahu a’lam bishawab. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosa dan kekhilafan kita. Mudah-mudahan pula para pembaca dan semua pihak terkait yang berkepentingan memaafkan jika ane ada salah-salah kate. Oke?

Stop polemik. Sok para pihak yang berkepentingan dan memiliki wawasan duduk bersama demi kemaslahatan bangsa dan negara. Maaf Anda jangan marah bahasa saya agak balaga. Ngahaja agar pada-pada bagja.

Kalau ada waktu senggang dan sisa kuota, silakan baca juga: 3 Gunung Populer di Garut. Jangan lupa makan dan menunaikan shalat selama mendaki.

Ini hanya kereteg hate anak kemaren sore. Kalau tulisan ini Anda anggap bermanfaat, silakan share. Jika tidak berguna, senyumin aja. Salam lestari!

Tentang Penulis: Husni Cahya Gumilar

Gambar Gravatar
CEO ZonaLibur.com. Pria kelahiran Banjarwangi Kabupaten Garut yang hobi jalan-jalan, menulis dan dengerin marawis. Intinya saya bukan selebritis.