Pengalaman Tersesat di Gunung Cikuray

Pengalaman Tersesat di Gunung Cikuray – Cuaca sedang musim panas, siang itu Sabtu, 2012 di pelataran sekolah swasta di Banjarwangi, Kabupaten Garut saya bersama teman-teman honorer lainnya sedang duduk sambil bersenda gurau menanti bel tanda jam pulang sekolah.

Tiba-tiba salah seorang teman kami melontarkan ajakan untuk mendaki gunung tertinggi di #Garut, yakni Gunung Cikuray yang terletak di Kecamatan Cikajang, Cigedug, Bayongbong dan Banjarwangi Kabupaten Garut, #Jawa Barat.

#Gunung yang memiliki ketinggian 2.821 mdpl itu memang terlihat jelas dari tempat tinggal saya. Bentuknya mengerucut, berdiri tegak dan kokoh di tengah-tengah kota Garut.

Singkat cerita kami berenam setuju siang itu akan mendaki #gunung Cikuray. Kami pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan logistik dan mengemasi peralatan naik gunung. Tepat jam 2 siang, kami berkumpul di halaman mushola dekat salah seorang teman kami.

Tak lama kemudian elf datang, kami menumpang sampai alun-alun Cikajang. Saat itu ongkos masih Rp. 5.000 per orang, namun sekarang sudah naik 100%. Kami tiba di Alun-alun Cikajang, sekitar pukul 15.00, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke kampung Olan sebagai kampung terakhir menuju gunung Cikuray.

Kami sudah berjalan cukup jauh, saat tiba di batas hutan, waktu sudah hampir magrib. Perut pun sudah berbunyi minta diisi. Akhirnya kami keluarkan bekal masing-masing, lalu makan bersama di perbatasan hutan Cikuray.

gunung Cikuray Garut tempat wisata di garut

Selesai makan dan shalat, kami melanjutkan perjalanan menyusuri gelapnya hutan Cikuray di jalur Cikajang. Malam itu kami hanya membawa 1 buah lampu senter. Karena takut berpencar, kami memegang tali webing yang diikat dari leader sampai ke ekor. Sesekali kami melepaskan teriakan saling memberi semangat.

Tidak banyak istirahat di perjalanan, karena suasananya sangat mencekam dan menakutkan. Di antara kami, saat itu hanya ada 1 orang yang pernah mendaki gunung Cikuray, sedangkan 5 orang sisanya adalah pendaki pemula yang belum pernah mendaki gunung sama sekali.

Sekitar pukul 22.30 kami tiba di puncak gunung Cikuray. Alangkah senangnya saya saat itu, bisa menyaksikan heningnya kota Garut dari ketinggian. Tak banyak kegiatan yang dilakukan malam itu, hanya menyeduh kopi lalu kami tidur di pinggir bangunan bekas pemancar, beralas dan berselimut tenda pramuka.

Tenda pramuka sengaja kami jadikan alas karena tidak ada tiang untuk mendirikannya, sebelahnya lagi kami jadikan selimut yang ampuh menahan hembusan angin di puncak gunung.

Saat pagi masih buta, saya terbangun oleh lampu senter yang menyorot ke wajah. Rupanya ada pendaki dari jalur Pemancar Cilawu yang baru tiba di puncak Cikuray, mereka merasa aneh melihat saya dan kawan-kawan tidur di atas tanah berselimut tenda pramuka. Berbeda sekali dengan pendaki lain di situ yang menggunakan tenda dome bermerek.

Alasannya kami bukan tidak mau bawa, tetapi saat itu memang belum punya. Dan kami sudah agak terbiasa dengan cuaca dingin karena sehari-hari kami tinggal di daerah dingin.

Tidak lama kemudian, matahari sudah mulai memperlihatkan dirinya. Puluhan pendaki berkumpul bersama menyaksikan matahari terbit dan hamparan awan laksana samudera.

Dari puncak gunung Cikuray, terlihat gunung #Papandayan, gunung Guntur, gunung Ciremai dan gunung Slamet berdiri tegak.

Baca juga : Menempuh Jalur Pendakian Gunung Papandayan Garut

Setelah puas hunting foto dan menyaksikan keindahan alam dari puncak gunung Cikuray, kami menyiapkan sarapan pagi lalu menyantapnya bersama-sama. Dan sekitar pukul 10.00 kami pulang ke jalur yang sama, yakni jalur Cikajang.

Sekitar 30 menit kemudian, kami menemukan pertigaan. Semua bingung, ambil jalur kiri atau kanan? Akhirnya kami sepakat untuk mengambil jalur kanan. Setelah cukup jauh, saya merasa jalur ini berbeda dengan jalur yang dilewati tadi malam. Saya curiga, jangan-jangan kami sudah tersesat di gunung Cikuray.

Ternyata betul, kami tersesat ke jalur Bayongbong. Perbekalan sudah habis, uang hanya tersisa buat ongkos pulang, sedangkan perjalanan ke alun-alun Cikajang masih sangat jauh dan perut sudah tidak bisa diajak kompromi.

Terpaksa kami minta kentang ke petani di kampung Pabrik, Bayongbong, lalu memasaknya di pinggir kali dengan sisa parafin yang masih tersedia. Setelah perut terisi, kami berjalan melintasi bukit dan lembah kaki gunung Cikuray.

Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang, kami tiba di alun-alun Cikajang sekitar pukul 16.00, dan berhasil pulang ke rumah dengan selamat. Dan setelah itu, saya dan kawan-kawan mendapat pengalaman berharga yang sangat bernilai.

Selanjutnya baca juga : Menaklukan Medan Terjal Jalur Pendakian Gunung Cikuray Garut

Tentang Penulis: Husni Cahya Gumilar

Gambar Gravatar
CEO ZonaLibur.com. Pria kelahiran Banjarwangi Kabupaten Garut yang hobi jalan-jalan, menulis dan dengerin marawis. Intinya saya bukan selebritis.