Pengalaman Pertama Traveling ke Kuala Lumpur Malaysia

Traveling ke Kuala Lumpur pada 5-7 Mei 2018 merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri, sekaligus menjadi pengalaman pertama naik pesawat terbang. Lelenyapan alias ngeri-ngeri sedap, sensasi take off dan landing yang kata orang menagangkan benar-benar saya rasakan sendiri.

Silakan baca: Mimpi Traveling Setinggi Langit Asia Menjadi Nyata

Bagi saya, pengalaman pertama traveling ke Kuala Lumpur selama 3 hari ini sangat berharga. Maklum, biasa traveling naik motor cicilan. hehe

Wisata ke Kuala Lumpur ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Tiket pesawat dan voucher hotel dibeli lewat online beberapa minggu sebelum keberangkatan. Kami pesan tiket pesawat untuk 4 orang dan 2 kamar hotel bintang 2 di jalan Pudu dekat Bukit Bintang. Bukit Bintang merupakan pusat enternainment di Kuala Lumpur.

Day 1

Dari Garut, saya bersama 3 orang temans (saya, Irwan, Ikhsan dan Cecep) berangkat Jum’at dini hari. Tiba di bandara Husen Sastranegara Bandung sekira pukul 5 pagi. Setelah shalat Subuh, check in lalu antre pemeriksaan paspor di petugas imigrasi. Antrean sendiri ada 2 tahapan. Pertama, paspor dan boarding pass hanya dilihat petugas bandara. Kedua, paspor distempel oleh petugas Imigrasi.

Keberangkatan traveling ke Kuala Lumpur

Memasuki ruang tunggu, saya dan teman-teman duduk santai, ngobrol ringan sambil bercanda menunggu jadwal keberangkatan pukul 08.10 WIB. Tidak lama kemudian pesawat datang, terdengar pengumuman penumpang tujuan Kuala Lumpur agar segera memasuki pintu 1. Penumpang antre memasuki pintu 1 kemudian berjalan menuju pesawat.

Jujur saja, saya deg-degan. Takut ini, takut itu. Tapi saya mencoba membuang bayangan-bayangan buruk dan berusaha berpikir positif. Rileks..

Pramugari mulai memberikan pengarahan cara menggunakan masker oksigen, pelampung dan menunjukan pintu darurat. Nyaris tidak terasa pesawat mulai bergerak, deru mesin terdengar semakin keras, laju pesawat pun semakin kencang. Rupanya pesawat mulai take off.

Pendaratan pesawat yang saya tumpangi di bandara KLIA2 kurang sempurna, ada sedikit benturan roda pesawat belakang saat menyentuh tanah. Namun Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Penerbangan pertama ke Kuala Lumpur selamat sampai tujuan. Menarik napas lega sambil mengucap Alhamdulillah sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT yang telah memberikan keselamatan.

Tiba di Bandara KLIA2, penumpang harus berjalan cukup jauh mengikuti petunjuk arah KELUAR menuju petugas imigrasi. Antre pemeriksaan paspor di petugas foreigner paspor. Petugas tidak banyak basa-basi, setelah difoto dan sidik jari saya dipersilakan untuk pergi. Banyak sekali orang di situ, semua baru tiba di Malaysia.

Karena ini pengalaman pertama traveling ke Kuala Lumpur, saya menuju ke pusat informasi untuk menanyakan transportasi ke KL Central. Petugas mengarahkan naik Bas (bus) atau Teksi (taksi). Saya memilih naik bas karena tarifnya lebih murah dibanding teksi. Saya dapat kursi kosong di samping pramugari cantik yang mengenakan baju warna merah. Maunya sih ngobrol, tapi tak berani nanya duluan. Akhirnya tidur…. wkwkwk.

Tiket bas dibeli di counter bas, saya dapat tiket SkyBus dengan tarif RM 12. Perjalanan menuju KL Central sekitar 65 menit. KL Central adalah pusat jalur transportasi Kuala Lumpur. Bus, monorel, MRT, LRT, KLIA Ekspress dan KTM semuanya lewat KL Central.

Di KL Central, saya dan teman-teman sempatkan makan siang di KFC. Saya beli paket yang cocok dengan kantong, RM 8,60 dengan menu nasi, ayam dan Pepsi.

Saya clingak-clinguk, lirik sana lirik sini mencari info transportasi menuju Bukit Bintang di mana tempat saya akan menginap. Tanya ke petugas counter LRT laluan (jurusan) Pelabuhan Klang, tiket monorel dan gate-nya di sebelah mana? Dengan bahasa Melayu yang kurang bersahabat dengan telinga saya, petugas menjelaskan. Sikit-sikit saya paham.

Saya naik monorel laluan KL Central dengan tarif RM 2,80. Sebelumnya beli tiket di vending mechine dengan memasukan uang ringgit ke dalam mesin lalu keluar koin plastik berwarga biru agak mirip tutup botol air mineral. Koin itu ditempelkan di tap masuk monorel, kemudian nantinya setelah turun dan akan meninggalkan Stesen, koin dimasukan ke lubang yang tersedia di tap keluar.

Monorel adalah moda transportasi berbentuk kereta tanpa masinis yang terdiri dari 2 gerbong. Relnya di atas jalan, berhenti otomatis di tiap stesen. Di Indonesia, stesen ini mungkin stasiun.

Dari KL Central ke Stesen Bukit Bintang melewati 4 Stesen, yaitu Stesen Tun Sambanthan, Maharajalela, Hang Tuah dan Imbi. Tidak perlu khawatir tersesat karena selalu ada suara (suara mesin) yang otomatis memberitahukan sedang di stesen mana dan berikutnya stesen apa.

Saya berhenti di Stesen Bukit Bintang Air Asia, perjalanan dari KL Central ke Stesen Bukit Bintang hanya beberapa menit. Tepatnya lupa, tapi dapat dipastikan tidak lebih dari 30 menit.

Di Stesen Bukit Bintang hujan deras, di situ banyak yang menjajakan payung plastik. Saya sempatkan ngobrol dan foto bersama dengan penjual payung, dia berkebangsaan Bangladesh. Teman saya, Irwan membeli 1 buah payung seharga RM 10, cukup mahal untuk dompet saya.

Traveling ke Kuala Lumpur

Bukit Bintang merupakan kawasan hiburan dan tempat penginapan di Kuala Lumpur. Di sini suasananya ramai sekali, bahkan jam 02.00 malam masih tampak seperti jam 20.00 di Garut.

Saya dan temans berjalan menyusuri jalan Bukit Bintang menuju ke jalan Pudu mencari hotel yang sudah saya pesan via online. Setelah beberapa kali tanya lokasi Pudu, hotel pun ketemu. Check in, sholat lalu gogoleran sambil main ponsel mengabari keluarga di rumah bahwa kami telah sampai di Kuala Lumpur.

Checkin hotel hanya menyebutkan nama sesuai yang dipesan via online. Di komputer resepsionis nama kami sudah ada. Saat check in, kami diminta menunjukan paspor, pajak RM 10 per orang dan deposit RM 50 per kamar.

Setelah magrib, kami berjalan ke arah Ain Arabian. Tepatnya ke arah kiri dari Stesen Bukit Bintang. Ain Arabian merupakan salah satu halte GO KL warna ungu. GO KL sendiri adalah bas gratis yang disediakan pemerintah Malaysia untuk mengelilingi kota Kuala Lumpur. Dari Ain Arabian saya naik bas Go KL ke KLCC dengan melewati beberapa halte. Jangan takut kesasar, bas ini berputar satu arah mengelilingi KLCC.

Petronas traveling ke kuala lumpur

Di Suria KLCC telah ada ribuan orang yang sedang melakukan beragam aktifitas. Kebanyakan sedang nongkrong di pinggir kolam menyaksikan atraksi air mancur.

Traveling ke Kuala Lumpur Petronas

Setelah puas foto-foto dan menyaksikan keindahan Petronas Twin Tower, kami pulang menggunakan bas Go KL berhenti di Ain Arabian lalu jalan-jalan ke Jalan Alor mencari makan malam. Saya beli makan di sini dengan menu nasi dan ayam RM 10 ditambah kopi RM 5, total RM 15.

Selesai makan, saya nonton pertunjukan musik jalanan, sementara 3 teman saya mencari souvenir Petronas Twin Tower untuk oleh-oleh ke Garut.

Sekitar jam 1 dini hari, kami pulang ke hotel. Tukar foto, update, tukar foto, update.

Salah satu dari kami tak ada yang membeli kartu perdana khusus Malaysia, jadi bisa internetan ketika stay di hotel saja. Setelah keluar hotel, kami gunakan peta dan tanya-tanya ke orang yang dikira tahu dan bakal ngasih tahu. Navigasi darat di tengah kota modern yang baru diinjak, seru.

Tentang Penulis: Husni Cahya Gumilar

Gambar Gravatar
CEO ZonaLibur.com. Pria kelahiran Banjarwangi Kabupaten Garut yang hobi jalan-jalan, menulis dan dengerin marawis. Intinya saya bukan selebritis.