Napak Tilas Sejarah di Gedung Perundingan Linggarjati

Bagi Anda yang menyukai wisata berlatar belakang sejarah, Gedung Perundingan Linggarjati menjadi salah satu pilihan yang tepat. Di sana Anda akan seperti dibawa ke dalam napak tilas diplomatik para pendiri bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Anda tidak perlu repot membaca buku sejarah selama berkeliling di gedung tersebut. Beberapa petugas akan menjelaskan secara detil dari setiap ruangan dan barang yang ada. Anda pun boleh bertanya apa saja dan petugas akan menjawab segamblang mungkin sesuai peristiwa saat itu.

Awalnya Gedung perundingan Linggarjati merupakan sebuah bangunan milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Kemudian pada tahun 1946, gedung ini menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa bersejarah tersebut yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati. Akibatnya gedung ini sering disebut sebagai Gedung Perundingan Linggarjati.

Kini gedung yang terletak di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini berfungsi sebagai museum dan menjadi lokasi wisata sejarah Perundingan Linggarjati. Kawasan wisata ini menempati areal sekitar 2,5 hektar, pengunjung akan disuguhi pemandangan nan elok di sekitar Gedung Perundingan Linggarjati. Pengunjung dapat menikmati suasana alam khas pegunungan nan asri yang tidak bisa ditemui di kota besar. Udara sejuk dan hijau tersebut dipengaruhi posisi Desa Linggarjati yang berada persis di kaki Gunung Ciremai.

gedung perundingan linggarjati tempat wisata di kuningan

Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan via caridimari.blogspot.com

Perundingan Linggarjati berlangsung pada 11-13 November 1946. Perundingan tersebut dihadiri oleh para delegasi dari Indonesia dan Belanda. Delegasi Indonesia yaitu Sutan Sjahrir, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr.A.K.Gani dan Mr. Muhammad Roem. Sementara itu, delegasi Belanda ada Schermerhorn, Van Poll, F.DeBoer, dan Van Mook. Selama itu para delegesi menginap di satu gedung. Pengunjung dapat melihat langsung kondisi kamar yang ditempati masing-masing delegasi.

Selain kamar untuk menginap, bangunan tersebut terdiri dari ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun dan garasi.

Bagian ruang sidang berbentuk empat persegi panjang. Dalam ruang ini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Terdapat pula diorama yang sesuai dengan aslinya, sehingga pengunjung dapat melihat posisi duduk masing-masing delegasi. Di belakang masing-masing kursi yang ditempati, dilengkapi juga dengan foto para peserta delegasi. Beberapa peninggalan sejarah tersebut sampai saat ini masih dirawat dengan baik dan dipertahankan keasliannya.

Hasil perundingan ini menghasilkan naskah pesetujuan Linggarjati atau lebih dikenal dengan Perjajian Linggarjati yang disepakati di Jakarta pada 15 November 1946. Naskah Perjanjian Linggarjati ini pun bisa pengunjung saksikan dari dekat di gedung ini.

Gedung Perjanjian Linggarjati ini memiliki halaman yang luas dihiasi dengan pepohonan yang rindang. Gedung bergaya kolonial Belanda ini meski sudah cukup tua, namun pepohonannya masih tampak muda. Pada area ini, terdapat monumen yang bertuliskan isi pokok hasil perundingan.

Selain itu, terdapat batu hitam dengan ukiran lima pilar masyarakat Indonesia dibangun di atas monumen. Kelima pilar tersebut yaitu petani, pemuka agama, wanita, tentara, dan pemuda yang saling berangkulan. Hal ini sebagai wujud kekuatan utama bangsa Indonesia yang teguh membela kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi.

Untuk berwisata ke Gedung Perundingan Linggarjati, pihak pengelola membuka jam kunjungan. Gedung dibuka setiap hari. Senin hingga jumat jam kunjungan mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Sementara itu, sabtu dan minggu jam kunjungan mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.

Tiket masuknya, pengunjung hanya merogoh kocek sebesar Rp. 2.000/orang untuk dewasa dan Rp. 1.000/orang untuk anak-anak dengan tiket parkir Rp. 2.000/kendaraan. Cukup terjangkau dan bisa dikatakan sanggat murah karena bisa berwisata sekaligus menambah ilmu sejarah.

Baca juga: Menikmati Panorama Alam di Taman Wisata Alam Linggarjati Kuningan

Cukup sekian ulasan mengenai Gedung Perundingan Linggarjati. Selamat berlibur!!!

Napak Tilas Sejarah di Gedung Perundingan Linggarjati | Elsan Nasrillah | 4.5
Leave a Reply