Goa Selarong Saksi Bisu Perlawanan Pangeran Diponegoro

By Categories : Wisata Sejarah

Ehem, mencari destinasi wisata yang kaya akan sejarah zaman dulu? Zobur Lovers sepertinya mesti tahu tempat yang satu ini. Ya, Goa Selarong. Sedikit mengulas tentang sejarahnya ya, simak ulasannya berikut ini.

Pada saat itu tampaknya sudah tidak ada lagi cara bagi Residen Yogyakarta Jonkheer Anthonie Hendrik Smissaert (menjabat 1823-1825) agar Pangeran Diponegoro mau menerima alasan supaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengambil alih perkebunan di Bedoyo untuk membayar ganti rugi seluruh sewa tanah dan perkebunan itu kepada orang-orang Eropa di wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Saking kecewanya dengan pemerintahan Belanda plus intrik-intrik yang dilakukan oleh keluarga keraton yang berpihak kepada Belanda, akhirnya sang pangeran dan pamannya, Mangkubumi, memilih untuk menarik diri dari keraton. Sudah jarang sekali mereka berdua tampak di istana meskipun jabatan resminya sebagai wali Sultan HB V yang masih balita. Danurejo IV, yang menjabat sebagai patih dalem, memperkeruh keadaan karena justru dengan kedudukannya ia menjadi antek Belanda dan selalu mendukung dari semua keputusan Belanda.

goa-selarong-yogyakarta

Goa Selarong Yogyakarta via http://www.njogja.co.id/

Smissaert lalu mengambil keputusan untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di seputaran Jogja. Perbaikan jalan itu melewati Tegalrejo, daerah di sisi barat keraton yang juga menjadi tempat tinggal keluarga Pangeran Diponegoro dengan para pengikutnya. Pemasangan patok-patok jalan itu jelas membuat ketidaknyamanan bagi pangeran dan penghuni lainnya. Danurejo berada di balik itu dengan tidak memberitahukan rencana Smissaert itu kepada pangeran sehingga menimbulkan situasi panas dan pengikut keduanya saling terlibat perseteruan.

Diponegoro memerintahkan mengganti patok-patok itu dengan tombak-tombak. Itu menjadi isyarat, pertanda Diponegoro yang tidak sepaham dan siap menggugat dengan adanya pembangunan jalan-jalan itu yang kesannya mengada-ada. Belanda juga dan ingin memulai konflik secara terbuka dengan sang pangeran.

Situasi ini membuat Danurejo mengirim utusan, lebih tepatnya misi bersama pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan pengikutnya. Misi ini mendapat pertentangan hebat dari kubu pangeran. Setelah pertempuran hebat terjadi, Tegalrejo jatuh ke tangan pasukan yang dipimpin Belanda itu. Kediaman pangeran dibakar habis oleh bala tentara Belanda. Tetapi pangeran dapat meloloskan diri dengan menunggang kuda Kyai Gitayu serta berbusana semua putih melewati jalan setapak melalui desa-desa dan sawah-sawah saat adzan maghrib berkumandang. Pangeran bersama para pengawalnya yang bersenjatakan tombak itu dengan cepat meninggalkan pengejarnya.

Keesokan harinya mereka tiba di Selarong. Goa yang berbulan-bulan sebelumnya telah menjadi tempat meditasi, semedi, dan juga persinggahan utama pangeran saat-saat menyepi memprihatinkan kondisi keraton yang sudah jauh dari adat kearifan masa lalu yang sudah dicabik-cabik dengan amoralitas pemerintahan Belanda. Mulai saat itu juga Goa Selarong menjadi markas sekaligus wilayah utama sentral kedudukan pasukan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa 1825-1830.

Kini, setelah beratus tahun lamanya, Selarong masih tampak kokoh, indah, dan asri. Zobur Lovers bisa singgah di tempat ini yang sekarang telah dilengkapi dengan berbagai macam wahana bermain anak dan juga tempat untuk outbond. Jalan menuju goa berupa tangga berundak yang di kanan kiri tangga terdapat tempat duduk untuk istirahat dan wahana bermain anak. Sampai di tangga paling atas adalah gerbang menuju goa. Ada 2 goa di situ: Goa Kakung dan Goa Putri. Goa Kakung adalah tempat untuk Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya khusus yang laki-laki. Sementara Goa Putri adalah untuk istri dan para pengikut pangeran yang perempuan.

Di sisi kiri goa kakung terdapat air terjun dengan tebing berupa batu putih. Air terjun ini sering juga untuk bermain air. Tapi harap hati-hati karena semua batu putih yang licin sehingga jika tidak hati-hati bisa saja Zobur Lovers terpeleset.

Tahun 1980-an adalah tahun “keemasan” Goa Selarong karena hampir semua orang pasti mengunjungi goa ini. Bersepeda atau hiking jalan kaki adalah paling sering dilakukan oleh anak-anak sekolah atau kelompok sepeda kampung untuk sampai ke Selarong. Selain goa, di Selarong juga dikenal karena buah jambu biji. Jika jambu biji itu dibelah maka akan terlihat dalamnya yang merah merona. Buah jambu ini tidak besar, ukurannya kecil-kecil. Dan dipercaya hingga kini jika buah jambu biji Selarong paling ampuh untuk mengembalikan jumlah trombosit dalam tubuh yang merosot saat kena Demam Berdarah Dengue.

Sayang, jambu biji itu sedikit demi sedikit sudah menghilang dari peredaran. Jika Zobur Lovers menemui buah jambu biji di Selarong itu hanya sebagian kecil yang asli Selarong. Selebihnya adalah didatangkan dari pasar dan daerah-daerah di sekitarnya.

Lokasi Goa Selarong

Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Jogjakarta.

Transportasi

Tidak ada transportasi umum atau angkot yang sampai ke sana. Zobur Lovers disarankan untuk membawa kendaraan sendiri. Bisa motor atau mobil. Atau rental motor dan taksi. Jika Zobur Lovers penyuka gowes, maka jalan menuju Goa Selarong yang naik turun serta menikung bisa menjadi track favorit.

Harga Tiket Masuk Goa Selarong

Tiket masuk Rp. 3.000,00 per orang.

Tiket parkir Rp. 2.000,00 per kendaraan bermotor dan Rp 5.000,00 per mobil.

Di seputara Goa Selarong ada banyak tujuan wisata lain seperti Desa Kerajinan Krebet, Curug Pulosari dan seabrek kulineri seperti Ayam Ingkung Pajangan, Ayam Goreng Mbah Cemplung, dan Mangut Lele Mbah Warno.

Bagaimana, menarik bukan?

Baca juga: Bermain Wahana Air Seru di Goa Pindul Jogja

Selamat berlibur…

Goa Selarong Saksi Bisu Perlawanan Pangeran Diponegoro | Yura Aliazee | 4.5
Leave a Reply