Menengok Curug Sanghyang Taraje, Air Terjun Yang Lagi Hits di Garut

Curug Sanghyang Taraje, nama tempat wisata di Garut ini terdengar cukup unik. Taraje berasal dari bahasa Sunda, yang berarti tangga. Kalau diperhatikan curug ini memang kembar seperti tangga (taraje), namun besarnya tidak sama. Air terjun sebelah kiri (dari arah kita melihat) lebih besar dibandingkan kembarannya.

Selain nama dan viewnya yang unik, Curug Sanghyang Taraje juga memiliki mitos yang unik pula. Konon, air terjun ini digunakan sebagai tangga oleh Sangkuriang yang akan memetik bintang di Kayangan untuk Dayang Sumbi. Wallahu ‘alam.

Foto Curug Sanghyang Taraje

Air terjun ini memang sudah terkenal lewat postingan-postingan di media sosial, blog dan video youtube. Dari foto-foto Curug Sanghyang Taraje di Google, kelihatannya sangat menawan dan bikin penasaran. Saya pun merasa tertarik untuk mengunjungi dan menyaksikan langsung keindahan Curug Sanghyang Taraje dari jarak dekat, bukan dari Google Image. Bukan mampu, tapi karena biayanya murah banget, hehe. Setelah dibuktikan, anjaay ternyata benar Curug Sanghyang Taraje kece abiss. Juara.

Yuk simak pengalaman saya jalan-jalan ke Curug Sanghyang Taraje.

Minggu, 11 Maret 2018 pukul 10.05 WIB saya bersama anak dan istri tercantik sejagad berangkat dari rumah kecil yang belum beres tapi udah keburu rusak, menggunakan sepeda motor matic cicilan, wkwkwk..

Jalan Menuju Curug Sanghyang Taraje

Tiba di pertigaan Cikajang ke arah Cibuluh pukul 10.56 WIB, berarti dari rumah saya ke pertigaan Cibuluh menghabiskan waktu sekitar 1 jam berkendara dengan kecepatan rata-rata 40 km/ jam. Tak berani ngebut, karena motornya masih cicilan (keukeuh hehe), berat karena boncengan walau pun tak seberat merindukanmu preettt, jalan dari rumah saya di Banjarwangi menuju Cikajang nanjak dan berkelok seperti jalan hidupmu, peace!. Banyak alasan pokonya, padahal saya tidak pandai ngebut. hihi

Bukan begitu ketang, sebetulnya karena saya tidak terburu-buru, ingin menikmati perjalanan dan mengutamakan keselamatan berlalu lintas.

Jalan menuju Curug Sanghyang Taraje
Pertigaan Cibuluh dari arah Cikajang

Pertigaan Cibuluh dari Garut kota juga sekitar 1 jam, melewati Bayongbong dan Cisurupan. Pertigaan ini berada sebelum pasar Cikajang. Dari arah Cikajang belok kiri, kalau dari arah Garut kota belok kanan, tepatnya ke arah Bungbulang – Cisewu lewat Asrama Kostrad Yonif 303. Cirinya ada patung harimau. Harimau yang serem, tidak seperti patung harimau Cisewu (dulu) yang viral karena mukanya unyu-unyu hingga dijadiin games.

Pertigaan Cibuluh ke Curug Sanghyang Taraje

Lupakan patung harimau Cisewu yang unyu-unyu karena sekarang udah diganti oleh harimau yang gagah dan seram. Kita lanjutkan perjalanan menuju Curug Sanghyang Taraje, Asrama Kostrad Yonif 303 dapat ditempuh sekitar 5 menit dari pertigaan yang ada patung harimau tadi. Melewati asrama ini, laju kendaraanmu harus diperlambat. Tak boleh kebut-kebutan.

Arsama Kostrad 303

Jalan menuju Curug Sanghyang Taraje dari Cibuluh sampai ke Cisandaan masih bagus dan lebar. Namun banyak tikungan dan turunan tajam, terlebih setelah kantor PLN Sumadra. Dari Cisandaan, belok kanan ke arah Desa Pakenjeng Kecamatan Pamulihan. Sekitar 100 meter setelah Puskesmas Pamulihan, belok kiri lewat jalan desa yang kondisinya rusak. Jalannya sempit, hanya cukup untuk 1 mobil. Semakin dekat ke lokasi curug, jalannya semakin rusak dan terus menurun, sebelah kanan jurang. Di jalan yang rusak ini, saya sempat melihat 3 ekor kera berbulu hitam dengan ekor panjang sedang gelantungan di pohon pinggir jalan.

Fasilitas Curug Sanghyang Taraje

Setelah 20 menit dari belokan Cisandaan atau 1 jam dari Cibuluh, saya tiba di loket pendaftaran Curug Sanghyang Taraje. Setelah memarkirkan motor, saya menghampiri petugas loket. Namanya Ibu Esa, perangainya ramah. Saya sempat ngobrol itu ini dengannya. Saya juga menanyakan kebenaran mitos Curug Sanghyang Taraje. Ibu Esa membenarkan mitos tersebut. Bahkan menurut keterangan Ibu Esa, tak jauh dari situ terdapat batu tapak Sangkuriang dan Sanghyang Santen (lupa lagi). Sanghyang yang saya lupa lagi namanya itu biasanya dibuka kalau lebaran (hari raya Idul Fitri).

Wallahu ‘alam, apakah cerita taraje Sangkuriang itu hanya sekadar mitos atau fakta. Yang jelas keindahan Curug Sanghyang Taraje sangat memukau.

Di sekitar loket pendaftaran, terdapat area parkir motor dan warung. Sedangkan parkir mobil berjarak sekitar 20 meter dari pos. Ibu Esa tinggal di warung itu, jadi pengunjung bisa datang ke curug ini 24/7. Di curug ini juga pengunjung boleh camping, asal punya nyali.

Curug Sanghyang Taraje Pamulihan

Curug Sangyang Taraje berada tak jauh dari pos pendaftaran, hanya berjalan kaki beberapa menit saja melewati jalan floor yang lebarnya tidak lebih dari 1 meter. Kiri kanan jalan ini ditanami kapol. Penting enggak ya kebun kapol ini ditulis? he

Di lokasi Curug, terdapat beberapa gazebo, kursi dan ayunan. Terdapat juga WC namun tidak terurus, kalau mau buang air kecil harus numpang ke warung Bu Esa dan bayar lagi Rp. 2.000. Kalau mau gratis silakan ke sungai, tapi dijamin moal nyaman. Di sini juga tersedia bak sampah dari drum bekas, meski begitu ada saja oknum pengunjung yang meninggalkan sampah di gazebo.

Udara di sekitar curug sangat sejuk dan rindang. Air terjunnya yang tinggi dan besar mampu menghasilkan kabut. Kiri kanan curug berupa tebing batu. Kolam di bawah curug ini tidak memungkinkan untuk jadi tempat berenang. Untuk menikmati dinginnya percikan air cukup berdiri di bendungan, dijamin basah kuyup kaya tikus kecebur kolam. Secara keseluruhan lingkungannya indah dan tertata.

Keindahan Curug Sanghyang Taraje

Selain menikmati keindahan air terjun, aktifitas yang bisa dilakukan di sini yaitu berfoto ria dengan latar air terjun eksotis. Saya sendiri lebih suka mengambil gambar curug dan aktifitas orang-orang yang sedang menikmati curug ketimbang berswa foto. Kalau difototeh sayamah suka mati gaya, gitu-gitu aja. Kalau tidak mirip foto KTP, ya angkat jempol. wkwkwk

Curug Sanghyang Taraje
Traveler tampan kaya Sangkuriang

Tiket Masuk Curug Sanghyang Taraje

Harga tiket masuk Curug Sanghyang Taraje tergolong sangat murah, hanya Rp. 5.000 per orang untuk pengunjung dewasa dan Rp. 3.000 untuk anak-anak. Tarif camping Rp. 10.000 sepuasnya. Tarif parkir kendaraan juga murah, motor Rp. 3.000,- mobil Rp. 5.000. Kalau mau camping tapi khawatir pada motor, bisa menitipkannya di dalam warung Bu Esa dengan membayar parkir tambahan sebesar Rp. 20.000.

Estimasi biaya ngetrip ke Curug Sanghyang Taraje dari Garut kota menggunakan sepeda motor diperkirakan Rp. 28.000; bensin Rp. 20.000 PP, tiket masuk Rp. 5.000, parkir motor Rp. 3.000. Sebaiknya ajak teman untuk mengisi jok motor kamu biar ada teman ngobrol di jalan dan di lokasi curug dengan tambahan biaya Rp. 5.000 untuk tiket masuk teman kamu.

Mau coba mengeksplor Curug Sanghyang Taraje?

Tentang Penulis: Husni Cahya Gumilar

Gambar Gravatar
CEO ZonaLibur.com. Pria kelahiran Banjarwangi Kabupaten Garut yang hobi jalan-jalan, menulis dan dengerin marawis. Intinya saya bukan selebritis.