Bekantan, Primata Hidung Panjang dari Pulau Kalimantan

Bekantan, Primata Hidung Panjang dari Pulau Kalimantan – Bekantan (Nasalis Larvatus) adalah sejenis monyet yang memiliki hidung panjang dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua sepesies dalam genus tunggal #monyet Nasalis. Primata hidung panjang ini merupakan binatang endemik pulau #Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai. Penduduk Borneo (Kalimantan) menyebutnya monyet Belanda, pika, bahara bentangan, raseng dan kahau.

Bekantan merupakan primata endemik yang pada habitat aslinya lebih sering dijumpai di rawa-rawa, hutan pantai dan hutan bakau di pulau Kalimantan. Bekantan lebih sering hidup secara berkelompok dengan jumlah 10-30 ekor dan sebagian waktu mereka dihabiskan di atas pohon.

Meskipun spesies ini banyak menghabiskan waktu di atas pohon, tetapi mereka mahir berenang dan pandai menyelam. Pada sela jari kakinya terdapat selaput dan hidungnya juga dilengkapi semacam katup.

Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dengan monyet lainnya adalah hidung besar dan panjang yang hanya ditermukan di spesies jantan. Secara fisik, ukuran bekantan jantan lebih besar dari betina. Spesies jantan bisa mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Sedangkan bekantan betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg.

Bekantan aktif pada siang hari dan umumnya mereka mulai lagi pagi hari untuk mencari makanan. Pada siang hari bekantang menyukai tempat yang teduh (agak gelap) untuk beristirahat. Menjelang sore mereka kembali ke pinggiran sungai untuk makan dan mencari tempat tidur.Primata hitung panjang ini memiliki ukuran perut buncit, suka mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian dan aneka daun-daunan. Penyebab hidungnya yang panjang ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Dan kenyataannya, bekantan betina lebih memilih bekantan jantan berhidung besar sebagai pasangan hidupnya.

Habitat bekantan dapat dijumpai di beberapa lokasi. Di antaranya di Suaka Margasatwa Pleihari Tanah Laut, Suaka Margasatwa Pleihari Martapura, Cagar Alam Pulau Kaget, Cagar Alam Gunung Kentawan, Cagar Alam Selat Sebuku, Teluk Kelumpang, Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Paminggir, Sungai Tapin, Pulau Bakut dan Pulau Kembang.

Populasi primata berhidung panjang ini dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menyusut dan terancam punah kategori #critically endangered. Penyebabnya karena penyempitan lahan hutan, perambahan hutan mangrove dan perburuan liar secara beser-besaran. Mereka terkadang masuk ke perkampungan karena kesulitan mencari makan.

Baca juga : Orangutan Kalimantan, Pongo yang Terancam Punah di Pulau Borneo

Oleh karena itu, bekantan dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No. 134 dan No. 266 jo UU No. 5 Tahun 1990. Berdasarkan Red Data Book termasuk dalam kategori genting, yaitu populasi satwa ini berada di ambang kepunahan. Mejak tahun 2000 IUCN redlist menetapkan bekantan sebagai binatang CITES golongan #appendix I (tidak boleh diperdagangkan).

Undang-undang No. 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 menyatakan bahwa:

Setiap orang dilarang untuk :

  • Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.
  • Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.
  • Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain ke dalam atau keluar Indonesia.
  • Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.
  • Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Ketentuan pidana

  • Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 21 ayat 2 tersebut di atas, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
  • Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat 2 tersebut di atas, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
  • (sumber : dephut.go.id)

Satwa berhidung panjang ini juga ditetapkan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990. Selain itu, bekantan jantan juga dijadikan sebagai maskot Dunia Fantasi (Dufan).

Bekantan, Primata Hidung Panjang dari Pulau Kalimantan | Husni Cahya Gumilar | 4.5
Leave a Reply